Ego-Kepribadian Manusia menurut Freud

Memulai jurnal di tahun 2015 ini dengan Sigmund Freud.

Suatu hari, beberapa minggu lalu, mencoba mengikuti tes kepribadian extrovert-introvert di internet. Salah satu pertanyaannya menanyakan mana yang akan saya pilih, jika bisa kembali ke masa lalu atau memiliki suatu kesempatan. Bertemu Einstein dan bertanya tentang science atau bertemu Freud dan berdiskusi mengenai manusia. Pilihan tertuju pada Freud, walau waktu kecil pernah menempel gambar Einstein di lemari baju buat memotivasi dan juga pencitraan-konsep aktualisasi diri klo diri ini bisa juga jadi ilmuwan-orang pintar. Freud baru saya kenal akhir-akhir ini, itu juga tidak begitu saya ketahui apa penemuannya. Saya cuma tau klo Sigmund Freud, seorang ahli kejiwaan yang terkenal dan mungkin juga pionirnya karena namanya sering disebut-sebut. Memutuskan untuk memilih Freud karena lebih tertarik dengan manusia, psikologi, dan terutama ilmu sosial sekarang ini dimana juga pendidikan yang sudah saya pilih. Klo memilih ketemu Einstein, bingung juga mau nanya apa, diri ini ga ahli di bidang eksakta atau science dan dari dulu juga selalu dibully sama yang namanya matematika.

Satu hal yang menarik dari Sigmund Freud, bapak psikoanalitis, dimana dia mengungkapkan manusia memiliki 3 unsur kepribadian, yaitu Id, Superego, dan Ego. Id merupakan suatu kebutuhan yang bersifat fisiologis, seperti lapar, haus, dan kebutuhan biologis dimana suatu kebutuhan yang dituntut dari dorongan untuk kepuasan. Freud mengatakan bahwa Id ini sama halnya yang dimiliki oleh hewan dimana hewan berusaha memenuhi nafsu lapar, haus, dan keinginan biologis atau lahir. Untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat fisiologis ini, hanya didasarkan oleh dorongan untuk memenuhi kepuasan tanpa mempedulikan hal yang lain. Kemudian, Superego merupakan hal yang membedakan manusia dengan hewan dimana manusia memiliki suatu moralnya tersendiri. Superego adalah kecendrungan manusia untuk berbuat baik sesuai norma dan etika dalam masyarakat. Dengan kata lain kebutuhan manusia untuk berbuat baik dalam sosial, dimana tentu saja hewan tidak memiliki hal ini karena hewan dapat berbuat apa saha untuk memenuhi kebutuhan lapar dan hausnya tanpa memperhatikan atau mengerti mengenai moral yang ada.

Unsur ketiga yang merupakan jembatan antara Id dan Superego yang bersifat berlawanan ini adalah Ego. Sebagai penyeimbang, ego menengahi kebutuhan manusia yang dasar, yaitu kebutuhan lahiriah (lapar, haus, dan seks) dengan kebutuhan sosial untuk berbuat baik. Mengambil rujukan dari buku 59 Detik karangan Richard Wiseman, diibaratkan di dalam satu kamar ada seorang remaja pria, seorang pendeta, dan seorang akuntan. Kemudian, di dalam kamar terdapat majalah porno. Remaja pria adalah Id, pendeta adalah Superego, dan akuntan adalah Ego. Tentu saja remaja pria akan saling bertentangan dengan pendeta mengenai nasib majalah porno tersebut apakah akan dibuka (dibaca) atau dibiarkan saja. Seorang akuntan yang akan menjadi penengah antara remaja pria dan pendeta yang sedang bertentangan atau bertengkar ini.

Referensi :

Wiseman, Richard. 59 Detik. Jakarta : Gemilang. 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s