“NICHE MARKET” PADA “TV JARINGAN”, HARAPAN UNTUK KONTEN TELEVISI YANG LEBIH BAIK

“TV JARINGAN” (baca dalam Bahasa Inggris, ga mau sebut merk) sebuah televisi baru yang sudah 3 tahun mengudara dimana konten-konten acaranya berbeda dari stasiun-stasiun televisi lainnya. Hari Senin kemarin iseng-iseng sempetin ikut Seminar TV UI, iyaaa UI mau bikin TV sekarang. TV lokal yang cuma buat lingkup di Depok aja yang isinya untuk informasi bagi mahasiswa-mahasiswa UI di Depok. Jadi, di seminar yang diadain buat me-rekrut mahasiswa sukarelawan yang mau ikut bagian dan andil dalam penyiaran, UI ngundang “TV Jaringan” (Net TV, ga mau sebut merk di judul hehee :D) buat ngadain seminar dan pelatihannya nanti untuk proses perekrutan lebih lanjut. Pemred dan wakil pemred-nya klo ga salah yang bicara untuk presentasi di depan. Pemred dan wakil pemred-senior di Net TV bergantian melakukan presentasi dan juga tanya jawab sama mahasiswa, selain itu menyajikan power ponit yang menarik yang menggambarkan keadaan stasiun televisi di Indonesia; bagaimana perkembangannya dari zaman pemerintahan dulu hingga zaman demokrasi yang serba terbuka sekarang ini, konten-konten acara yang berkembang, dan juga mengapa acara-acara di televisi kebanyakan berisi acara-acara yang sama yang biasanya mengikuti suatu tren tertentu.

Niche Market”. Itu yang terpikirkan di pikiran ini saat Net TV menyajikan presentasinya. Suatu diferensiasi dalam strategi bisnis-blue ocean strategy. Niche market atau pasar niche adalah suatu pasar yang menjual produk yang spesifik. Blue ocean strategy lawan dari red ocean strategy, yaitu strategi bisnis yang menjual produk denganstrategi yang berbeda dari penjualan produk pada umumnya, yaitu pada bisnis red ocean strategy. Intinya adalah diferensiasi produk atau menghasilkan produk yang memiliki spesifikasi khusus yang berbeda dari produk-produk umumnya yang dijual dipasaran, dalam suatu pasar khusus yang disebut niche market dengan startegi yang disebut blue ocean strategy.  Jadi, Net TV dapat dikatakan sebagai suatu televisi menyajikan acara-acara yang kontennya atau programnya berbeda dengan stasiun televisi pada umumnya. Strategi bisnis dengan diferensiasi produk-konten atau program acara yang dilakukan oleh Net TV. Hal ini patut diajukan jempol karena Net TV berani mengambil langkah ini, kudos to Wishnutama sang empu atau pendiri televisi baru ini yang tampak idealis dengan usahanya ini dan startegi bisnisnya serta masi berusaha untuk mengikuti undang-undang KPI yang ada sebagai dasar untuk pembuatan program-programnya dan juga . Jangan lupa, beliau seorang empu dari televisi sebelah yang udah besar dan punya gedung sendiri yang besar di daerah Pancoran. Penyaji presentasi yang pemred dan wakil pemred mengaku bahwa mereka berasal dari stasiun televisi sebelah dan katanya mereka tobat di tv baru ini setelah dari tv lama yang katanya berusaha melakukan framing tertentu di acara-acaranya dahulu, misalnya men-zoom bagian aurat tubuh artis untuk kenaikan rating, mendramatisir suatu adegan variety show yang berujung pada tangis-tangis talent-nya. Net TV katanya berusaha untuk menyajikan acara-acara yang berkelas, tidak mau menyajikan acara infotainment yang murahan, tidak mau menyajikan iklan pemilu saat musim kampanye meskipun harga iklannya mahal, dan tidak mau seperti televisi dahulu yang saat musim mudik para reporternya memakai emblem merk produk tertentu di seragamnya. Jika dilihat, semua ini dilakukan dengan dasar untuk pembentukan brand bagi televisi itu sendiri dimana Net TV beregerak sebagai suatu televisi yang memiliki suatu ciri yang istimewa-berbeda atau terdiferensiasi yang bergerak dalam suatu niche market. Hal ini bagus sekali karena Net TV sejak awal benar-benar berusaha untuk menjaga brand positioning-nya.

Kembali kepada strategi diferensiasi dengan berada atau bergerak pada bisnis dalam lingkup niche market, Net TV mencoba mengambil pasar untuk kelas atau golongan audies A-B. Pada slide power point disajikan gambaran grafik mengenai audiens di Indonesia dari data riset rating menurut Nielsen yang kebanyakan penontonnya di dominasi oleh golongan C. Ada 5 golongan yang diklasifikasikan untuk audiens televisi umum di Indonesia, berdasarkan penghasilan yang diterima setiap bulan, yaitu dari atas ke bawah golongan A, golongan B, golongan C, golongan D, dan golongan E. Jumlah presentasinya sebesar 60% audiens yang menonton televisi umum dari golongan C sebesar 60%. Kembali pada cerita di atas mengenai program mudik di atas, pada musim mudik lebaran iklan-iklan yang ditayangkan biasanya berupa iklan-iklan yang diperuntukkan untuk para pemudik. Para penyaji presentasi dari Net TV bercerita mengenai saat musim mudik tersebut dimana iklan obat gosok meskipun penyajian iklannya kurang berkelas atau “tidak mewah” memiliki harga yang mahal untuk ditampilkan terutama saat berita mengenai arus mudik. Tapi, Wishnutama menolaknya karena dianggap tidak berkelas dan tidak sesuai dengan konsep dari Net TV. Dari sini kita bisa melihat bahwa Net TV berusaha membentuk suatu brand yang memang diperuntukkan untuk golongan menengah ke atas. Kemudian, pada sesi tanya jawab ada yang bertanya apakah Net TV akan tetap mengambil konsumen pada golongan A-B atau tetap bergerak dalam niche market, di mana di dalam pikiran saya tentu mereka tidak dapat menjawabnya karena dalam bisnis yang bergerak tidak menentu dan perubahan yang bisa saja terjadi dari lingkungan, kita tidak tahu dan tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi di depannya. Ambil contoh, salah satu televisi lama yang sudah mengudara sebelum zaman reformasi dimana saat itu terkenal dengan acara beritanya ‘Liputan 6” dan tampak menjadi suatu televisi yang menyajikan berita-berita yang cukup akurat juga dengan berita kriminalnya, “Buser” sekarang tampaknya berpindah haluan atau membuat perubahan untuk stretegi bisnisnya dengan program-program sinetron-sinetronnya yang khas dan juga acara-acara musiknya. Dalam hal ini, pihak Net TV menjawabnya dengan mengatakan bahwa mereka mencoba “meng-upgrade” artis-artis yang membawakan acara mereka. Perkataan upgrade disini yang dimaksud adalah menaikkan levelnya, yaitu pelawak-pelawak yang diambil dari televisi mereka sebelumnya, mereka mendandani dan membetuk persona yang baru dari artis pelawak itu menjadi tampil lebih berkelas. Pantas saja, ketika saya menonton Net TV sewaktu mula-mula dulu saya agak kaget kenapa pelawak yang biasanya tampil berkuncir kuda dan berwarna pirang rambutnya sekarang menjadi rapi dengan rambut hitam klimis dan kacamata sera jas dan juga membawakan acara talkshow yang bersifat santai dan juga menghibur. Harapan pun timbul di hati ini, semoga kedepannya televisi ini bisa menjadi suatu pembaruan dan perubahan dan juga suatu titik harapan untuk suatu diversitas atau keberagaman dalam acara-acara di televisi. Yaaa semoga kata-kata “yaaahh acaranya gini-gini mulu” bisa terkikis perlahan-lahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s