“NICHE MARKET” & “BLUE OCEAN STRATEGY”

Pasar ceruk atau Niche Market, yaitu suatu pasar dimana para pebisnis mengambil suatu ceruk atau suatu keadaan cerukan yang terbentu dalam pasar atau bagaimana pebisnis mengambil ceruk dalam suatu pasar yang sudah ada. Pasar seperti kita ketahui secara umum adalah tempat pertukaran barang dan jasa, tempat bertemunya pembeli dan penjual. Pasar ceruk atau niche market berarti dapat dikatakan sebagai suatu pembuatan keadaan “pasar yang baru” yang berbeda dari pasar-pasar yang ada sebelumnya. Dalam kamus Oxford, niche diartikan sebagai kata benda (noun) dan juga keadaan bagi bisnis, yaitu :

  1. (noun) comfortable or suitable role, job, etc
  2. Business = opportunity to sell a product to a particular group of people
  3. Small hollow place in a wall, eg for a statue

Arti yang nomor tiga, berarti ceruk atau lubang. Dengan kata lain, niche yang terbentuk dalam pasar berarti suatu ceruk atau lubang dari keadaan pasar yang ada pada umumnya. Menurut wikipedia, niche market adalah “produk atau jasa yang ditujukan untuk memuaskan pasar secara spesifik”. Jadi, niche market adalah suatu pasar yang bisnisnya bergerak dengan melihat suatu “cerukan” yang ada atau celah-celah yang ada yang berbeda dari keadaan pasar yang sudah ada.

Berbicara mengenai inovasi dan juga diferensiasi produk, maka tidak ketinggalan membicarakan mengenai blue ocean strategy atau strategi laut biru. Pada tahun 2005 diterbitkan buku berjudul Blue Ocean Strategy. How to Create Unconctested Market Space and Make the Competition Irrelevant karangan W. Chan Kim dan Renee Mauborgne terbitan Harvard Business School Press. Buku ini berdasarkan studi pada trategi bisnis di 150 macam industri. Pernyataannya mengenai blue ocean strategy yang merupakan lawan dari red ocean strategy yaitu, perusahaan-perusahaan dapat sukses dengan tidak bertarung atau melawan kompetitor, tapi menciptakan suatu lautan biru-blue ocean dari pasar yang tidak bersaing. Dalam keadaan pasar yang biasa, yang sudah ada atau the known market ini disebut sebagai lautan merah-red ocean strategy. Holt dan Cameron dalam Cultural Strategy (2014, Bab 1), mengatakan bahwa kunci pelaksanaan bisnis dalam niche market melalui inovasi atau diferensiasi produk yang dihasilkan. Lebih lanjut Holt dan Cameron menyatakan, kondisi pasar merah ini digambarkan sebagai suatu pasar yang telah ada dicirikan dengan persaingan keras dan startegi bisnisnya untuk mengalahkan pesaing menggunakan beberapa keunggulan yang dimiliki perusahaan. Sebenarnya apa yang sedang diperebutkan oleh para stakeholder melalui red ocean strategy hanya batasan atau margin yang tipis dikarenakan persaingan yang ketat antara kompetitor. Oleh karena itu, melalui blue ocean strategy, pelaku bisnis menciptakan inovasi dan juga dapat membuat terbentuknya suatu pasar yang baru-niche market.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa melalui niche market yang terbentuk dari strategi bisnis melalui strategi lautan biru perusahaan dapat melakukan bisnisnya dengan menciptakan atau memproduksi produk-produk yang terspesifikasi atau yang terdiferensisasi. Seperti yang sudah disebutkan di atas oleh Holt dan Cameron dalam Cultural Strategy (2014, Bab 1) mengatakan bahwa kunci untuk melakukan strategi dalam blue ocean ini dengan melakukan inovasi. Contohnya, bisa kita lihat oleh penemuan-penemuan produk Apple Inc. dimulai dari ipod, ipad, dan hingga kini iphone yang merupakan suatu terobosan inovasi dalam teknologi. Contoh lain bisa kita lihat pada keripik pedas Maicih dimana melakukan inovasi untuk memproduksi makanan cemilan keripik-keripik pedas dengan lidah orang Indonesia yang suka makanan pedas dengan kisaran level. Dari sini kita bisa lihat keripik Maicih membuat suatu terobosan inovasi pada bisnis makanan pedas dimana kita atau konsumen bisa memilih level-level pedas berapa yang akan kita makan dan juga Maicih dapat mengembangkan makanan keripik menjadi suatu cemilan dengan harga yang mahal yang dijual di pasaran orang-orang di perkotaan di pemasarannya melalui social media dan distribusinya sendiri memakai truk-truk yang saat dulu nge-trend hanya bisa ditemui di daerah-daerah kota di jalan raya dan juga hanya bisa dibeli melalui agen-agen tertentu. Kemudian contoh lainnya dalam industri makanan bisa dilihat lagi pada restoran fast food Richeese Factory dengan keunggulan inovainya pada chicken wing yang pedas dengan level-level. Dari kebanyakan fast food pada umumnya yang menjual fried chicken yang hanya digoreng garing dengan tepung-crispy, Richeese Factory melakukan inovasi dengan membuat ayam goreng tepung yang tidak digoreng crispy, tapi dilumuri dengan bumbu pedas manis dan juga dengan penyediaan saos kejunya dimana restoran fast food pada umumnya menyediakan saos sambal dan saos tomat.

Referensi :

Holt, Douglas dan Douglas Cameron. Cultural Strategy. Jakarta : Gramedia. 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s