KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI MELALUI TEORI X DAN TEORI Y

Prinsip utama dari Teori X adalah pengontrolan sebuah organisasi dalam pekerjaan yang bersifat pada otoritas. Teori ini cenderung bersifat kaku dan otoriter dimana memandang manusia yang bersifat malas dan harus didisiplinkan. Kebiasaan-kebiasaan komunikasi dalam organisasi yang berdasarkan motivasi dengan didasari Teori X, antara lain :

  1. Arus pesan dengan arah yang downward dari atas melewati keseluruhan dari garis organisasi.
  2. Pembuatan keputusan terkonsentrasi pada tangan beberapa orang yang dekat dengan puncak organisasi.
  3. Komunikasi upward terbatas untuk kotak saran, selentingan atau rumor, dan terdapat sistem mata-mata (para pekerja yang secara rahasia melaporkan informasi mengenai para pekerja lain kepada manajer).
  4. Interaksi yang kecil dengan para pekerja dengan tempat yang terasa menakutkan dengan dasar kurang kepercayaan.
  5. Komunikasi downward terbatas untuk pesan-pesan informatif dan pengumuman-pengumuman dari keputusan.

Berdasarkan dari keadaan kebiasaan-kebiasaan komunikasi Teori X, dapat menciptakan suasana atau atmosfir yang terdapat kurangnya kepercayaan, rasa takut atau khawatir, dan kesalahpahaman. Seiring waktu, McGregor menciptakan Teori Y yang berdasarkan dari konsep integrasi atau sifat sosial manusia. Inti prinsip Teori Y adalah integrasi atau penyatuan yang membuat kondisi anggota organisasi dapat mencapai tujuan-tujuan mereka dengan mengarahkan usaha bersama menuju kesuksesan dari perusahaan.

McGregor juga mengungkapkan bahwa para pekerja lebih memilih untuk tidak diarahkan dan dikontrol secara eksternal, tapi lebih baik menikmati self-control dan self-direction sendiri. Manajer yang mengadopsi Teori Y berasumsi  tingkah laku manusia akan bertanggung jawab mengikuti kebiasaan atau tingkah laku komunikasi seperti berikut :

  1. Pesan-pesan dengan arah ke atas, ke bawah, dan keseluruh organisasi
  2. Pembuatan keputusan tersebar melewati organisasi. Bahkan keputusan-keputusan penting termasuk masukan dari anggota-anggota semua level dari baris organisasi.
  3. Adanya feedback (umpan balik) yang didorong dalam arah upward.
  4. Interaksi yang jujur dengan para pekerja mengambil tempat dalam atmosfir yang percaya diri dan saling percaya.
  5. Arus dari pesan-pesan downward biasanya cukup untuk memuaskan kebutuhan para pekerja.
  6. Pembuatan keputusan berdasarkan pesan-pesan dari semua level organisasi, dan bersifat akurat secara berkualitas karena adanya keputusan yang dapat diperbaiki.

Referensi :

Goldhaber, Gerald M. Organizational Communication, 6th edition. 1993. Boston, MA : McGraw Hill Co.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s