POSITIVISME, KONSTRUKTIVISME, DAN KRITIS

Ada tiga pendekatan utama pada ilmu sosial. Ketiga pendekatan atau pandangan ini menyediakan perbedaan dalam asumsi mengenai cara melakukan suatu penelitian sosial. Melalui ketiga pandangan ini kita dapat melihat fenomena atau kejadian sosial dengan cara yang berbeda dan juga melihat gambaran alternatif-alternatif dalam memahami realitas sosial.

Positivisme

“…..menemukan hukum sebab akibat…Model ini…ciri khas ilmu alam yang menjadikannya begitu sukses, dan asumsinya adalah bahwa jika ilmu sosial bisa meniru ilmu alam, maka ilmu sosial pun akan mencapai sukses yang serupa.” –Emile Durkheim-

Pandangan yang paling tertua yang digunakan dalam ilmu sosial adalah positivisme dimana merupakan pendekatan dalam ilmu-ilmu alam. Melihat suatu kejadian atau gejala sosial atau fenomena yang ada sebagai suatu yang causal (hukum sebab akibat), sesuatu yang terjadi karena disebabkan oleh suatu alasan. Misalnya saja, kurangnya berolahraga dapat menyebabkan fisik menjadi lemah dan mudah terserang penyakit, penelitian mengenai kekerasan dalam televisi yang berpengaruh kepada mental anak, dan penelitian mengenai meningkatnya daya beli masyarakat dikarenakan meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Dalam ilmu komunikasi pandangan positivisme digunakan dalam teori kultivasi (Cultivation)  dan teori Agenda Setting.  Dalam pendekatan ini, penelitian terhadap ilmu sosial menggunakan data kuantitatif yang akurat dan menggunakan eksperien, survei, dan statistik untuk mencari ketelitian dan melihat dengan objektif. Positivisme menggunakan asumsi objectivist atau empirical realist, yaitu persepsi atas adanya suatu “realitas” yang sebenarnya ada diluar pemikiran atau pandangan manusia. 

Catatan-catatan mengenai pandangan secara positivisme, antara lain :

  • Tujuan utama positivisme yaitu, hukum sebab-akibat (causal laws).
  • Peneliti memulai dengan hubungan sebab-akibat yang secara logika diambil dari hukum sebab-akibat dalam teori umum.
  • Peneliti terpisah, netral, dan objektif dalam melakukan penelitian terhadap aspek kehidupan sosial.
  • Manusia berpikir secara rasional.
  • Penjelasan bersifat nomotetis (beraturan) dan berkembang melalui penalaran deduktif.
  • Ilmu sosial seharusnya bebas nilai dan objektif.

Konstruktivisme

Ilmu sosial interpretif atau pandangan secara konstruktivisme menekankan pada aksi sosial yang bermakna dimana makna ini terbentuk secara sosial dan memiliki relativisme nilai. Aksi sosial yang bermakna (meaningful social action) yaitu, berbagai perspektif dengan subjek penelitian, mempelajari aksi sosial yang bermakna, bukannya suatu perilaku nyata dari beragam orang. Jadi, melalui pendekatan konstruktivisme kita melihat aksi-aksi atau kejadian atau fenomena sosial yang terjadi sebagai suatu yang bermakna dan juga memili makna bagi subjek-subjek yang melakukannya. Bagaimana cara kita mmelihat suatu fenomena sosial dengan memahaminya dan ikut merasakan atau berempati dengan subjek sosial yang melakukannya. Aksi sosial yang bermakna, misalnya mengedepikan mata terjadi karena refleks, tapi saat tertentu mengedipkan mata yang disengaja menjadi suatu aksi sosial yang memiliki motivasi dimana dalam hal ini terdapat suaut makna yang subjektif terhadap aksi tersebut.

Interpretif-konstruktivisme berorientasi secara “konstruktionis”, yaitu orang membentuk realitas dari interaksi dan keyakinan mereka. Berbagai hal yang dilihat dan dialami seseorang dalam dunia sosial dikonstruksi secara sosial dimana bahasa dan kebiasaan berpikir mendikte hal-hal yang seseorang lihat. Jika, peneliti positivis mengukur detail kuantitatif yang terpilih mengenai ribuan orang dan menggunakan statistika, peneliti interpretif hidup selama setahun dengan selusin orang untuk mengumpulkan data kualitatif untuk memperoleh pemahaman mendalam-menggali makna.

Catatan-catatan mengenai pandangan secara konstruktivisme, antara lain :

  • Berasumsi bahwa setiap orang mendapat pengalaman dunia dalam cara yang sama. Secara interpretif mempertanyakan apakah orang mengalai realitas sosial atau fisik dalam cara yang sama. Orang melihat, mendengar, atau bahkan menyentuh benda fisik yang sama, tetapi memaknai atau menginterpretasinya secara berbeda.
  • Pendekatan interpretif dilakukan dengan dasar dalam penelitian sosial yang bersifat sensitif terhadap konteks, yang menyelami cara-cara orang melihat dunia, dan yang lebih pedulli untuk meraih pemahaman tegas dibandingkan menguji hukum seperti berbagai teori perilaku manusia.
  • Tujuan ilmu sosial menurut pandangan interpretif adalah memahami makna sosial dalam konteksnya.
  • Memandang secara konstruksionis, yaitu realitas yang ada diciptakan secara sosial.
  • Manusia adalah mahluk sosial yang berinteraksi yang menciptakan dan menguatkan makna bersama.
  • Penjelasan bersifat idiografis (representasi secara simbolis atau deskriptif) dan berkembang melalui penalaran induktif.

Kritis

“ide-ide hanya berasal dari kelas yang berkuasa : …Kelas yang menguasai sarana produksi material, pada saat yang sama mengusai pula sarana produksi mental, jadi…ide-ide dari mereka yang tidak memiliki sarana produksi mental bergantung pada ide-ide dari kelas yang berkuasa.” (Marx dan Engels, 1947 : 39)

Pandangan secara kritis (critical) mengkritik positivisme sebagai ilmu yang picik, antidemokrasim dan non humanis dalam penggunaan nalarnya. Kemudian, mengkritik konstruktivisme karena gagal mengatasi makna orang-orang yang nyata dan kapasitas mereka untuk merasakan dab berpikir karena mengabaikan konteks sosial dan menjadi anti-humanis. Selain itu, kritis mengkritik konstruktivisme dengan mengatakan bahwa konstruktivisme terlalu subjekti dan relativis, memperlakukan ide orang lebih penting daripada kondisi sebenarnya (misalnya, kemiskinan secara nyata, penindasan, dan kekerasan).

Penelitian dalam ilmu sosial yang dipandang secara kritis bertujuan utama bukan sekedar untuk mempelajari dunia sosial juga untuk mengubahnya. Mengkritik dan mengubah hubungan sosial dengan cara mengungkapkan sumber-sumber yang mendasari kontrol sosial, hubungan kekuasaan, dan ketidaksetaraan. Memberdayakan orang-orang, terutama mereka yang berada dalam masyarakat marjinal yang kurang berdaya. Adanya istilah atau pemahaman mengenai “kesadaran palsu” (false conciousness), yaitu manusia sering memiliki ide yang keliru atau menyesatkan mengenai kondisi secara empiris atau mengenai kepentingan mereka yang sebenarnya.

Catatan-catatan mengenai pandangan secara kritis, antara lain :

  • Ilmu sosial bertujuan untuk mengungkapkan hal-hal yang bersembunyi untuk memberdayakan dan membebaskan masyarakat.
  • Realitas sosial memiliki lapisan yang majemuk.
  • Manusia memiliki potensi yang tidak disadarinya dan disesatkan oleh “reifikasi”, yaitu keadaan terlepas dan kehilangan pandangan.
  • Pengetahuan ilmiah bersifat tidak sempurnya, tapi dapat memerangi kesadarn palsu.
  • Realitas sosial dan penelitiannya selalu mengandung dimensi moral-politik dan posisi moral-politk tidak seimbang dalam memajukan kebebasan dan pemberdayaan manusia.

Referensi :

Neuman, W. Lawrence. Metodologi Penelitian Sosial : Pendekatan Kualitatif dan Pendekatan Kuantitatif. Edisi ke-7. Jakarta : Indeks, 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s