KULTIVASI DALAM ILMU KOMUNIKASI

The concept of “cultivation” thus refers to the independent contribution television viewing makes to audience members conceptions of social reality. Television viewing cultivates ways of seeing the world-those who spend more time”living” in the world of television are more likely to see the “real world” in terms of the images, values, potrayals and ideologies that emerge through the lens of television.”

(Morgan, Shanahan, and Signorelli, “Growing Up With Television,” in Media Effects : Advances in Theory & Research, pp. 35)   

Kultivasi dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), berarti pengolahan lahan pertanian; pengerjaan lahan pertanian. Kata cultivation jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yaitu penanaman, pengolahan. Teori Kultivasi (cultivation) dalam ilmu komunikasi membahas mengenai dampak-dampak media massa-menonton televisi bagi khalayak (audiens). Bagaimana televisi sebagai suatu medium-media massa melakukan pengolahan persepsi audiens atas keadaan sosial atau budaya yang ada atau yang sebenarnya terjadi. Kita sebagai audiens bercermin dari apa yang ada atau apa yang ditampilkan di media-televisi. Kita menyerapnya, memaknainya, dan juga menganut pemahaman-pemahaman yang ada di televisi. Bagaimana masyarakat yang menonton televisi melihat dunia tempat mereka hidup melalui televisi.

Teori ini dikembangkan oleh George Gerbner dari Universitas Pennsylvania. Gerbner melakukan studi atau penelitian mengenai “indikator budaya” dari televisi sebagai suatu medium pesan-media massa. Dia meneliti dan mempelajari teori ini dari gambaran konten televisi yang mengandung kekerasan (violence). Gerbner  mengungkapkan bahwa televisi yang mengandung banyak kekerasan menyebabkan orang yang melihatnya akan mempercayai bahwa dunia atau lingkungan di sekitarnya berbahaya sehingga merasa takut dan cemas. Gerbner meilhat televisi sebagai suatu medium pesan yang memiliki kekuatan dari simbol-simbol pada konten yang dikandungnya sebagai sebuah “real-life drama”-keadaan yang sebenarnya di dunia nyata. Televisi disini sebagai suatu institusi sosial yang berperan sebagai storyteller yang memberikan masyarakat gambaran atau cerita mengenai apa yang benar dan apa yang terjadi. Gerbner melihat banyaknya kekerasan pada televisi di Hollywood pada tahun 1950an-1960an. Dia mengungkapkan bahwa alasan kekerasan yang banyak ditampilkan di Hollywood karena untuk menghasilkan keuntungan yang maksimal dengan biaya yang minimum dimana suatu tontonan mengenau kekerasan (violence) murah untuk diproduksi dan berbicara mengenai bahasa yang umum-dekat dengan masyarakat mengenai kejadian sehari-hari. “…is the simplest and cheapest dramatic means to demonstrate whowins in the game of life and the rules by which the game is played.” (Jerome H. Skolnick, The Politics of Protest, pp. 3-24).

Jika kita melihat berita di televisi mengenai kekerasan atau pembunuhan dan juga mengenai aksi demo besar-besaran yang anarkis kita akan merasa bahwa keadaan sekarang ini sedang rawan akan bahaya dan kita akan merasa takut. Kemudian kita bisa melihat contoh lainnya kultivasi secara umum dari, jika kita menonton televisi terus-terusan mengenai drama atau sinetron yang banyak berkisah mengenai perselingkuhan hingga perceraian yang biasanya awalnya disebabkan oleh pihak laki-laki dimana sinteron biasanya berpihak kepada perempuan-pihak perempuan yang selalu teraniaya, maka kita akan berpikir secara stereotip atau terbentuk pemahaman stereotip bahwa laki-laki yang kaya dan sukses atau memiliki uang banyak dari sibuk bekerja atau berkarir biasanya akan selingkuh atau melakukan poligami. Selain itu juga terbentuk suatu stereotip mengenai perempuan yang “baik”, perempuan yang teraniaya akibat perbuatan suaminya yang tidak perhatian dan berpindah ke lain hati perempuan lain dan perempuan “jahat” yang sebagai seorang gold digger yang berusaha memikat hati pria yang sukses dan kaya. Bisa juga media televisi sekarang ini yang marak menampilkan penyanyi-penyanyi dangdut yang berpakaian sexy dimana stereotip yang terbentuk adalah penyanyi dangdut yang bersifat “seronok” atau “vulgar” atau kurang berkelas dibandingkan penyanyi pop karena lebih “menjual” sensansi dan sensualitas, padahal musisi dangdut pada awal mulanya di Indonesia di tahun 1990an bernyanyi tanpa unsur sensualitasnya sama sekali, bahkan ada tokoh penyanyi dangdut terkenal yang mengkedepankan dakwah agama.

Referensi :

Griffin, EM. A First Look at Communication Theory. 8th ed. Sage, 2009.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s