Memulai Kembali dengan…”Cognitive Dissonance”

“These grapes are sour, and if I had some I would not eat them.” 

Memulai kembali menulis setelah dua tahun berhenti. Semoga bisa terus lanjut dan banyak menulih hal-hal baru, komentar, dan pelajaran-pelajaran atau pengetahuan baru yang didapat. Kali ini, akan mengulas mengenai cognitive dissonance. Pernahkah memiliki pemikiran untuk memiliki sesuatu yang diidam-idamkan atau sangat diidamkan, tapi pada akhirnya kita justru menganggap keinginan itu cuma sekedar keinginan yang sebenarnya “ga penting” atau tidak akan memberikan manfaat apa-apa.

Hal seperti ini dinamakan cognitive dissonance atau bahasa Indonesia-nya, “dissonansi kognitif”. Kognitif berarti pikiran kita atau pemikiran-paham yang kita punya. Dissonansi berarti sesuatu yang bertentangan-dalam KBBI online (http://kbbi.web.id/disonansi)  yang saya coba “googling” disebutkan disonansi adalah kombinasi bunyi yang dianggap kurang enak didengar. Berarti, disonansi bisa dikatakan sebagai pertentangan-sesuatu yang tidak selaras-bunyi atau suara yang tidak mengenakkan untuk didengar. Dalam pengertian atau konsep ini, bunyi yang tidak mengenakkan itu berada dalam pemikiran seseorang. Jadi, disonansi kognitif (cognitive dissonance) merupakan suatu pertentangan pikiran atau pemikiran kita dengan realitas atau kejadian sebenarnya yang sedang terjadi. Ada “bunyi-bunyi” atau “suara” yang sebenarnya sedang bergaung dalam benak-pikiran kita, jika kita mengalami sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan atau keinginan.

Cognitive dissonance, dicontohkan dengan dongeng Aesop mengenai seekor serigala yang ingin memakan buah anggur. Aesop adalah seorang budak Yunani pada zaman dahulu kala yang pintar dan tahu banyak hal mengenai cerita. Dia sering menceritakan banyak hal yang memberi pelajaran hidup melalui fabel (cerita tentang hewan). Dongeng Aesop, “The Fox and The Grapes” bercerita tentang serigala yang ingin memakan buah anggur yang berada diatas pohon yang sangat tinggi. Serigala tersebut berusaha untuk meloncat dan meraihnya dengan kukunya yang tajam. Berkali-kali serigala itu melompat, tapi ia tidak berhasil mendapatkan sejumput pun buah anggur. Hingga serigala itu berpikir bahwa buah anggur itu sebenarnya tidak manis, tetapi asam. Pemikiran serigala yang berubah mengenai rasa buah anggur ini, sebenarnya merupakan justifikasi (pembenaran) atas sikap atau perbuatannya. Serigala tidak berhasil untuk mendapatkan buah anggur yang menggiurkan yang rasanya pasti manis dan merasa kecewa-alias serigala sebenarnya sedang menghibur dirinya yang gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.

Griffin menyebutkan cognitive dissonance sebagai “the distressing mental state caused by inconsistency between a persons’s two believes or a belief and a action“. Lebih lanjut, Griffin mengutip Leon Festinger dari bukunya A Theory of Cognitive Dissonance, disonansi kognitif  adalah suatu keadaan stres atau menyedihkan yang dialami mental seseorang ketika “ia menemukan dirinya melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang mereka ketahui, atau memiliki pendapat yang tidak sesuai dengan pendapat lain yang mereka pegang”. Keadaan seperti dapat kita temukan misalnya, pada seorang pegawai kantor yang mempunyai harapan tinggi pada kantornya, tapi kenyataannya kantornya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Maka ia akan merasa stres dengan tekanan beban kerja yang tinggi dan upah yang tidak seberapa-ia akan merasa tidak bahagia dengan karir yang dicapainya. Misalnya pada hal lain, mengenai hubungan pacaran dengan seseorang. Ketika satu pihak sudah merasa kecewa atau sakit hati dengan pacarnya atau memiliki nilai-nilai yang berbeda dengan pacarnya, tapi ia tetap berpacaran dengannya hingga sering terjadi pertengkaran. Memutuskan untuk tidak berpisah atau bertahan dengan alasan “sayang”, tetapi sebenarnya adalah merasa kesepian dan belum menemukan atau ada orang lain yang lebih baik yang dapat menggantikan-atau “ga mau jomblo alias sendirian kesepian. Hal ini merupakan disonansi kognitif karena ia tetap bertahan dan seringkali melakukan justifikasi terhadap perlakuan sang pacar yang bertentangan dengan nilai-nilai pribadi.

Referensi :

Griffin, EM. A First Look at Communication Theory. 8th ed. Sage, 2009.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s