“One-Punch Man”, Saitama yang Bercita-cita Menjadi Superhero

images (1)

“I’m not a hero because I want your approval. I do it because I want to!”

Absurd. Itu kata pertama yang terlintas saat menonton anime One-Punch Man. Awalnya, saya menonton anime ini karena ingin kembali mengikuti hype pada anime yang ber-genre action dan juga kebetulan ditayangkan pada Animax. Dan ternyata, sangat menginspirasi dan menghibur karena ceritanya yang ternyata adalah satire terhadap superhero genre dan overpowered character yang khas pada anime bergenre action.

One-Punch Man sendiri setelah saya google, adalah manga yang iseng-iseng dibuat oleh Mangaka yang bernama One pada webcomic di tahun 2009 hingga Yusuke Murata mengkontak One untuk membuat ulang kembali One-Punch Man dan menerbitkannya kembali. Tidak disangka-sangka cerita One-Punch Man menjadi hits dan dibuat anime-nya pada tahun 2015 oleh studio Madhouse, hingga sekarang sedang dibuat season 2-nya.

Kisah One-Punch Man menceritakan tentang Saitama, seorang superhero kuat yang tidak tertandingi dan dapat mengalahkan (menghancurkan) musuhnya hanya dengan satu pukulan saja (one-punch). Hingga Saitama bertemu dengan seorang cyborg berambut pirang yang bernama Genos dan bersama-sama mendaftar pada persatuan Superhero atau Hero Association. Saitama dan Genos akan bertemu banyak pahlawan (hero) lainnya yang memiliki kekuatan super dan memiliki karakter atau kepribadian yang unik serta saling adu kekuatan dan berusaha untuk menjadi yang terkuat.

images (3)

Hero Association ini berupa markas yang me-manage para pahlawan super dan bahkan memberikan mereka rangking mengklasifikasi para pahlawan super ini kedalam golongan-golongan serta memberikan mereka “pekerjaan” berupa panggilan untuk menyelamatkan penduduk atau membasmi monster.  Hal ini mengingatkan saya dengan markas Avenger pada film Avenger yang merupakan basecamp para superhero, disini superhero yang ada banyak dan memiliki tingkatan atau rangking. Ada pahlawan pada level bawah yang berurusan pada kejahatan kecil dan menolong para penduduk dijalanan hingga level atas yang membasmi kejahatan-kejahatan yang berat seperti membasmi monster atau alien dari luar angkasa.

Saitama digambarkan sebagai pahlawan yang terkuat yang bisa mengalahkan musuh hanya dalam satu pukulan saja tetapi bukan termasuk dalam level pahlawan tingkat atas, justru Genos yang menjadi pahlawan pada level atas karena kekuatan cyborg-nya. Santai (woles) abis dan acuh tak acuh, tapi hadir disaat-saat genting untuk menyelamatkan atau menjadi pahlawan. Karakter Saitama ini terlihat sangat absurd untuk menjadi seorang superhero. Jangan bayangkan Clark Kent sebagai Superman atau Bruce Wayne sebagai Batman, Saitama sangat jauh dari sosok pahlawan yang kharismatik. Sosok Genos sendiri sebenarnya adalah kebalikan dari Saitama, pahlawan yang serius, Saitama masih sempat membaca manga, memasak di dapur, dan mencari diskonan di supermarket. Meskipun begitu, Saitama tetap menjadi yang terkuat dan jika sudah bertarung kharisma kepahlawanannya akan keluar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s